KeIhsanan
Minggu, 8 April 2012
Ikhlas dalam beribadah
Ikhlas
Ikhlas sebelum, ketika dan sesudah beribadah.

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Sylfaen; panose-1:1 10 5 2 5 3 6 3 3 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:67110535 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Sylfaen; panose-1:1 10 5 2 5 3 6 3 3 3; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:67110535 0 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:"Traditional Arabic"; panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:8195 -2147483648 8 0 65 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial; mso-fareast-language:EN-US;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-link:"Footnote Text Char"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial; mso-fareast-language:EN-US;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; vertical-align:super;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;} span.FootnoteTextChar {mso-style-name:"Footnote Text Char"; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:"Footnote Text"; mso-fareast-language:EN-US;} span.highlight {mso-style-name:highlight; mso-style-unhide:no; mso-style-parent:"";} span.ayasign {mso-style-name:ayasign; mso-style-unhide:no; mso-style-parent:"";} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; mso-endnote-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page WordSection1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.WordSection1 {page:WordSection1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:787316286; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1370042298 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} -->

Ikhlas adalah suatu perbuatan hati, kondisi atau keadaan jiwa. Ikhlas artinya murni, bersih batin kita dalam rangka beribadah kepada Allah. Perbuatan yang dilakukan dengan kemurnian akan menyelamatkan seseorang dari kerusakan. Maksudnya perbuatan tersebut tidak tercemari oleh sifat-sifat tercela seperti riya (pamer), sum’ah (mengejar popularitas), bangga diri (’ujub), suka pujian, dan benci celaan. Sebab, kemurnian dalam hatinya akan melenyapkan setiap noda keburukan.

Ada 3 tahap penting dalam mencapai keikhlasan: sebelum, ketika dan sesudah beribadah.

Pertama. Ikhlas ruh atau  jiwa dalam menyambut berbagai perintah Allah SWT

Yang harus menyambut rangkaian ibadah tersebut adalah jiwa yang bersih, yang dasarnya adalah keimanan kepada Allah SWT. Maka sebelum beribadah luruskanlah batiniyyah kita agar tertuju hanya kepada Allah SWT bukan lainnya.

Yang mendorong munculnya motivasi –motivasi dalam menjalankan rangkaian ibadah adalah nilai keimanan. Jangan sampai yang mendorongnya adalah hawa nafsu kita. Karena bisa terjadi apa yang mendorong berbagai macam ibadah yang kita lakukan bukan atas dasar keimanan melainkan hawa nafsu kita.

Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan,

حَظُّ النَّفْسِ فِى الْمَعْصِيَةِ ظَاهِرٌ جَلِيٌّ وَحَظُّهَا فِى الطَّاعَةِ بَاطِنٌ خَفِيٌّ وَمُدَاوَاةُ مَا يَخْفَى صَعْبٌ عِلاَجُهُ.

Peran hawa nafsu dalam perbuatan maksiat itu jelas sekali, tetapi perannya dalam mendorong perbuatan taat itu halus samar (sulit terdeteksi), dan untuk mengobati yang samar itu amat sukar menyembuhkannya.[1]

Ibadah menjadi rusak karena tidak dilandasi nilai keimanan dan keikhlasan. Peran hawa nafsu yang memprakarsai perbuatan taat itu begitu sulit mengobatinya. Inilah peran hawa nafsu yang bisa menjebak amal-amal kita.

Dalam pelaksanaan amal ibadah sering kali mengakibatkan permusuhan atau kebencian, bahkan perbuatan ketaatan juga menimbulkan bentuk kejahatan dengan menghalalkan darah manusia. Inilah yang kita saksikan pada masa sekarang. Antara golongan satu dengan lainnya yang mengatasnamakan Islam dan ayat-ayat Allah saling menghantam, memojokkan hingga saling membunuh. Hal seperti ini yang menggerakkan bukan dari nilai-nilai keimanan, tapi hawa nafsu yang merambat di hati walaupun wujud lahiriyyahnya adalah ketaatan kepada Allah. Amal yang jauh dari nilai keikhlasan ini tentu ditolak oleh Allah SWT.

Sebelum kita melakukan amal ibadah kita luruskan dulu niat kita, hanya tertuju kepada Allah SWT. Apa yang diungkapkan oleh Nabi Ibrahim As. Innii dzaahibun ilaa Robbii sayahdiin. [Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku] (Q.S. Ash-Shaffat: 99). Seluruh rangkaian ibadah ditujukan kepada Rabb (pembimbing)nya yakni Allah SWT. Sehingga Allah memberikan petunjuk dalam mengikhlaskan segala ibadahnya.

Yang kedua saat beribadah. Jangan sampai ketika melaksanakan ibadah diperngaruhi oleh nafsu kita yang mengganggu jalannya ibadah itu sendiri. Ada 4 penangkal penyakit-penyakit batiniyyah yang didorong oleh hawa nafsu selama proses menjalankan ibadah, Yakni:

  1. Asy-Syuhud ilallaah, merasa disaksikan oleh Allah SWT.

غَيِّبْ نَظَرَ الْخَلْقِ إِلَيْكَ بِنَظْرِ اللهِ إِلَيْكَ وَغِبْ عَنْ إِقْبَالِهِمْ عَلَيْكَ بِشُهُوْدِ اِقْبَالِهِ عَلَيْكَ

Hilangkan pandangan makhluk kepadamu karena kuat pandangan Allah terhadapmu. Dan lupakanlah perhatian mereka kepadamu, karena menyadari bahwa Allah memperhatikanmu.

Akan merasa indah dan tenang ketika ibadah dalam pengawasan-Nya. Sebelum ibadah kita memfokuskan tujuan kepada Allah dan ketika beribadah merasa diawasi-Nya sehingga tidak butuh pandangan makhluk[2] selama proses ibadahnya. Cukuplah Allah, yang mengevaluasi seluruh proses ibadah kita.

  1. Makrifat kepada Allah.

مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ شَهِدَهُ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ

Man ’arofal haqqo syahidahuu fii kulli syai‘.

Barang siapa yang mengenal (makrifat) dan kebijakan Allah maka ia akan menyaksikan bahwa dalam setiap makhluk-Nya ada gerakan Allah SWT.

Saat melihat seluruh fenomena alam, di situ terlihat getaran-getaran Af’al (perbuatan) Allah. Tidak ada gerakan dan kekuatan selain Qudrat dan Iradat-Nya. Termasuk yang sedang kita lakukan dalam rangka proses beribadah kepada-Nya. Hati dan panca indera diserahkan kepada-Nya. Sehingga apa yang kita lakukan (dalam beribadah) semata-mata karunia Allah SWT.

Langkah yang kedua ini adalah Makrifat (mengenal) Allah, bahwa di balik semua gerak kehidupan ini ada Qudrat Iradat Allah.

  1. Fana kepada Allah.

مَنْ فَنِيَ بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ

Man faniya bi ghooba ’an kulli syai‘ yuhibbuhu.

Barang siapa Fana kepada Allah, pasti ia lupa (ghaib) dari segala sesuatu.

Begitu Besar dan Kuasa-Nya Allah sehingga ketika melihat dirinya tidak ada. Inilah pengalaman Nabi Musa As. ketika meningkatkan cinta kepada Allah. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran,

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ [٧:١٤٣]

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

Itulah yang dinamakan Fana, kehancuran diri ketika menyaksikan Kemuliaan dan Keagungan Allah. Tidak melihat suatu makhluk (ghooba ’an kulli syai‘) kecuali Allah SWT. Seluruh makhluk dalam pandangannya seolah kosong  dan bayangan belaka, yang terlihat hanya keberadaan Allah. Laa mawjuuda illallaah. Tidak ada yang tampak melainkan Allah SWT. Orang yang Fana dalam beribadah kepada Allah, maka merasa tidak ada jasa dan upaya pada dirinya.[3]

Jika seseorang beribadah disertai dengan kondisi Fana ini maka akan muncul keikhlasan yang kuat, dan penyakit-penyakit batin akan menjauh selama proses beribadah kepada Allah.

  1. Cinta kepada Allah.

مَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا

Waman ahabbahuu lam yu‘tsir ’alayhi syai‘an.

Barang siapa yang mencintai Allah maka ia tidak akan mengutamakan segala sesuatu.

Mahabbah atau perasaan cinta kepada Allah akan mengalihkan perhatian seseorang dari selain-Nya. Yang diutamakan hanyalah Allah SWT, bahkan ia akan sanggup mengorbankan segala kepentingan dan hawa nafsunya di dalam mencapai keridhaan-Nya. Potensi mahabbah menyebabkan ia tidak menghiraukan pujian atau penghormatan orang lain. Allah SWT menjadi harapan dan orientasi perhatiannya dalam seluruh rangkaian ibadahnya.

Proses yang ketiga (sesudah ibadah) adalah menjaganya dengan mempertahankan kerahasiaan dan keutuhan ibadah tersebut. Manusia sering kali berhasrat  menampilkan kelebihan dan keistimewaan setelah beribadah di hadapan publik, padahal demikian itu dapat membatalkan seluruh amal ibadah.

Syekh Abul Harits al-Muhasibi memberikan perumpamaan,

Jika pohon telah tercerabut dari akarnya, rantingnya rontok, daunnya kering, tidak berbuah, lalu mati. Pemiliknya tidak akan mendapatkan manfaat darinya karena tidak berharga. Sebaliknya, jika akarnya menghujam ke dalam tanah,  ia akan menyerap mineral untuk pertumbuhannya, akarnya bertambah kukuh, daunnya menghijau, dan buahnya segar dan enak. Pemiliknya pun dapat mengambil manfaat, memetik, dan menjualnya. Itulah sumber keikhlasan.[4]

Mengharap kepuasan dari semua manusia merupakan keinginan yang tidak mungkin tercapai, dan sebodoh-bodoh manusia adalah siapa yang berusaha meraih apa yang tidak mungin tercapai.

اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَّعْلَمَ الْخَلْقُ يِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِيْ عُبُودِيَّتِكَ

Keinginanmu untuk diketahui orang tentang sesuatu dari keistimewaan (ibadah)mu itu, sebagai bukti tidak adanya ketidakikhlasanmu dalam penghambaanmu (kepada Allah).[5]

Ada perasaan yang kuat ingin memperlihatkan keistimewaan ibadah kita kepada orang lain, baik secara lisan maupun tulisan, membuktikan kita belum ikhlas dan tulus dalam menjalankan ibadah. Merasa ujub atau merasa puas dengan amal ibadah yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ibadah kita masih jauh dari nilai keikhlasan.

Pelaksanaan ibadah yang menimbulkan efek negatif berupa ’izzan wastikbaaron, merasa hebat, kuat dan mulia, bahkan menimbulkan ketakabburan (kesombongan) di hadapan Allah maupun makhluk, pada hakikatnya bukan termasuk ibadah. Sebaliknya perbuatan dosa yang dapat menimbulkan dzullan wastighfaaron, yakni merasa kehinaan diri dan malu kepada Allah, kemudian ia beristighfar memohon ampun kepada Allah hal itu lebih baik daripada perbuatan taat yang melahirkan efek negatif seperti sombong.[6]

Semestinya saat kita rampung menjalankan seluruh rangkaian ibadah, kita bertawakkal dan ber-tafwidh kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As setelah merampungkan seluruh proses ibadah yang diawali dengan menuju kepada Allah, Beliau berikrar:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿الأنعام: ١٦٢﴾

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam”.

Uraian: Sesungguhnya sholat yang telah aku lakukan, seluruh manasik atau rangkaian ibadah yang telah aku lakukan, bahkan hidup dan matiku adalah milik Allah Penguasa jagat raya.

Tips yang terakhir ini (saat rampungnya rangkaian ibadah) adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia melakukannya dengan tulus semata-mata hanya untuk menjalankan kewajiban.

 

Kesimpulan:

Ikhlas adalah kemurnian batin sebelum, saat dan sesudah beribadah. Sebelum beribadah, meluruskan hati dan jiwa agar bertujuan hanya kepada Allah. Selama proses menjalankan ibadah hendaknya menghadirkan kesaksian Allah, tidak membutuhkan kesaksian (perhatian) dari makhluk-Nya. Kemudian meluruhkan diri (Fana), sehingga yang muncul hanyalah keberadaan Allah. Muncullah kecintaan kepada-Nya, Allah adalah segala-galanya. Setelah menyelesaikan ibadah ia berserah diri (tawakkal dan tafwidh), serta merasakan semuanya adalah milik Allah. Jika kita melaksanakan tahap-tahap tersebut, Insya Allah ibadah kita diterima Allah dan berdampak positif, melahirkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat yang kekal.

Lq, 6 Apr ‘12



[1] Bait ke-170 Mutiara Hikam karya Syekh Ibnu ‘Athaillah al-Iskandari.

[2] Seperti pujian, sanjungan.

[3] Dalam mutiara Hikam disebutkan: “Jangan merasa gembira atas perbuatan taat karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu karena ia merupakan karunia Taufiq Hidayah dari Allah kepadamu”.                                                                                                   

[4] Al-Qashdu war Ruju’ Ilallah.

[5] Mutiara Al-Hikam.

[6] Syekh Ibnu ’Athaillah berkata dalam Hikam-nya:

مَعْصِيَّةٌ أَوْرَثَثْ ذُلاًّ وَّافْتِقَارًا خَيْرٌ مِّنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَثْ عِزًّا وَّاسْتِكْبَارًا

Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa rendah diri dan membutuhkan rahmat Allah lebih baik dari perbuatan taat yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan besar diri”.