KeIhsanan
Kamis, 22 Maret 2012
Hak-hak Allah atas Hamba-Nya
Hak Allah
Khutbah Jum\'at

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Traditional Arabic"; mso-font-alt:"Times New Roman"; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:8195 -2147483648 8 0 65 0;} @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:Arial; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} @font-face {font-family:+mn-ea; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:"Times New Roman"; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:"DecoType Naskh"; mso-font-charset:178; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:8193 0 0 0 64 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial; mso-ansi-language:IN;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; mso-style-link:" Char Char"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial; mso-ansi-language:IN;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; vertical-align:super;} a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-parent:""; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} span.highlight {mso-style-name:highlight; mso-style-parent:"";} span.ayasign {mso-style-name:ayasign; mso-style-parent:"";} span.CharChar {mso-style-name:" Char Char"; mso-style-noshow:yes; mso-style-locked:yes; mso-style-parent:""; mso-style-link:"Footnote Text"; font-family:Calibri; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/MICROS~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/06/clip_header.htm") fs; mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/MICROS~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/06/clip_header.htm") fcs; mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/MICROS~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/06/clip_header.htm") es; mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/MICROS~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/06/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

Makhluk Allah baik yang berada di langit maupun di bumi dalam rangkuman ungkapan Al-’Alamin (sebagaimana dalam Surat Fatihah) merupakan pancaran Af’al (Perbuatan) Allah. Dalam istilah Filsafat sebagai Theofani, yakni bayang-bayang Pencipta. Antara satu makhluk yang satu dengan yang lain dapat bersanding harmonis apabila masing-masing menegakkan hak dan kewajibannya.

Planet yang berada dalam gugus galaksi yang bertebaran di langit bergerak sesuai dengan Ketetapan Allah, itulah bukti kehambaan dan tasbih mereka kepada Allah.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿الحديد: ١﴾

Bertasbihlah kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Perkasa lagi Bijaksana.

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿يس: ٣٨﴾

Matahari bergerak dalam ruang orbitnya, yang demikian itu terjadi atas ketetapan Allah Yang Perkasa lagi Mengetahui. (Q.S. Yasin: 38) Semuanya sebagai bukti ketundukannya kepada Allah.

Demikian pula manusia, yang mendapatkan martabat dan predikat yang tinggi di hadapan Allah, yakni sebagai Khalifah fil Ardh, wakil Allah di muka bumi yang bertugas memakmurkan bumi.

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا..... ﴿هود: ٦١﴾

Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya, ..

Tugas manusia adalah memakmurkan, mengeksploitasi alam dengan tepat, menempatkan pemanfaatannya untuk manusia dalam rangka mewujudkan penghambaan diri kepada Allah SWT.

Langit dan bumi merupakan media petunjuk Allah bagi manusia. Keberadaannya adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri.

وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [٤٥:١٣]

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Hubungan manusia dengan Allah SWT akan terjalin harmonis, jika manusia mampu mendudukkan dirinya sebagai hamba dengan mengenal hak-hak dan kewajibannya.

Ada 4 Hak Allah yang wajib bagi hamba (Huquuqullah ’alal ’abdi):

(Pertama): An ta’budahu walaa tusyriku bihii syay-an. Beribadah kepada-Nya dan tidak melakukan syirik kepada-Nya.

Rasulullah Saw bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Ra.:

يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ

Wahai Mu'adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba?" "Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu," Jawab Mu'adz. Nabi bersabda lagi: "Yaitu agar mereka beribadah kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tahukah engkau apa hak mereka atas Allah?" tanya Nabi selanjutnya." Allah dan Rasul-Nya yang lebih lebih tahu." Jawab Mu'adz. Nabi bersabda: "Yaitu agar Dia tidak menyiksa mereka." (HR. Bukhari Muslim)

Hubungan manusia kepada Allah Al-Khaliq menjadi harmonis apabila manusia bisa mewujudkan penghambaan diri kepada-Nya. Wujud penghambaan diri manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Matahari, planet-planet, termasuk bumi yang dipijak sebagaimana disebutkan sebelumnya, bergerak atas ketetapan aturan Allah. Bentuk penghambaan makhluk lain bersifat statis (tidak dinamis). Sedangkan manusia, wujud penghambaannya bersifat dinamis.

Ibadah bagi manusia tidak sebatas di masjid, madrasah, majelis taklim, tapi di seluruh ruang gerak kehidupan manusia. Aturan beribadah bagi manusia ditentukan pada setiap segmen aktivitasnya. Inilah penghambaan manusia yang hakiki, sehingga pantas jika dinobatkan sebagai Khalifah di muka bumi dan dapat meraih kedudukan tinggi di sisi-Nya.

(Kedua): An tasykura ’alaa ni’aamihi wa shobro ’alaa qhodoo-ihii. Bersyukur terhadap karunia Allah dan bersabar atas ketetapan takdir-Nya. Rasa syukur merupakan manifestasi penghambaan diri kepada Allah. Allah senantiasa mencurahkan berbagai macam bentuk karunia kepada manusia. Dan salah satu bentuk karunia yang paling besar adalah fitrah agama dalam setiap pribadi manusia. Sejak alam azali manusia telah diberi kemampuan bersaksi tentang keberadaan Allah sebagai Rabb. Dan ketika dalam rahim ibu, manusia dalam usia 100 hari sudah diberikan potensi yang begitu besar berupa ruh ketuhanan. Firman Allah SWT:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al-Hijr, 15: 29)

Karunia nikmat besar berupa potensi Ilahiyyah inilah yang patut disyukuri oleh kita sebagai manusia. Karunia yang kita terima akan mantap dirasakan apabila kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya akan tertutup nikmat Allah dan kesadaran akan kebesaran karunia-Nya apabila kita menjauhkan diri dari-Nya.

Kita tidak bisa terlepas dari satu ketetapan takdir yang satu kepada takdir berikutnya. Hal itu merupakan hakikat perjalanan manusia hingga berhadapan dengan Sang Pencipta. Ketika kita memasuki ruang takdir (ketetapan)Nya maka kita mesti mempersiapkan diri dan membangun jiwa yang dapat menerima (sabar) atas ketetapan-Nya. Karena jiwa terkadang merasa gelisah dan kecewa terhadap ketetapan takdir-Nya yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Firman Allah SWT mengajarkan kita beretika ketika menghadapi ketetapan-Nya,

وَعَسٰى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْصلى وَعَسٰى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْقلى وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ {البقرة: ۲۱٦}

Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian; Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. (Al-Baqarah: 216)

Tekadang kita menyukai sesuatu sehingga mengharapkannya terjadi, namun bisa menjadi buruk dalam pandangan Allah. Kemajuan dalam ekonomi, prestise di tengah masyarakat, karir jabatan yang menanjak, kondisi itu adalah yang amat kita harapkan. Maka saat semuanya itu datang dan membuat kita lupa kepada Allah, berubahlah keadaan tersebut menjadi buruk efeknya (شَرٌّ لَّكُمْ) bagi kita.

Jika kita menepati hak Allah sebagai kewajiban kita sebagai hamba-Nya maka kita akan menerima segala ketetapan-Nya.

(Ketiga) At-tawakkal ’alallaah wat tafwidh ilayhi. Tawakkal berasal dari kata ‘wakala’ yang berarti wakil. Bertawakkal (tawakkal ’alallaah) mengandung pengertian mewakilkan urusan kepada Allah SWT.[1]

Setelah kita memaksimalkan usaha lahir dan batin, lalu kita serahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ketika manusia memiliki pondasi yang kuat kepada Allah, maka ia akan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Mengingat manusia merupakan makhluk yang lemah (dhaif). Firman Allah SWT,

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا ﴿النساء: ٢٨﴾

Manusia diciptakan dalam situasi dan kondisi yang lemah.

Saat manusia merasakan kelemahan dalam setiap tindakan, maka kita mewakilkan urusan dan mengembalikan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT. Itulah yang menyebabkan ketenangan, dan timbul kebesaran jiwa untuk siap menerima segala ketetapan-Nya. Dan apa yang telah kita upayakan adalah mewujudkan penghambaan diri kepada Allah, dan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.

Wat-tafwidh ilaiih, mengembalikan urusan kepada Allah.[2] Diri kita dan kehidupan yang menyelimutinya hakikatnya hanyalah titipan dari-Nya. Diri, harta, keluarga, semuanya merupakan amanah yang dititipkan kepada kita.

(Keempat) Al-hayaa-u min mukhoolafatihii. Rasa malu yang kuat karena tidak mampu melaksanakan perintah-Nya. Saat ucapan, tindakan atau perilaku kita yang tidak sesuai dengan aturan Allah, maka rasa malu itu kita wujudkan sesuai dengan porsinya. Dengan rasa malu inilah kita mengevaluasi dan membangun kualitas diri dalam mewujudkan penghambaan diri kepada Allah SWT.

Jika manusia tidak memiliki rasa malu, padahal kelakuannya jauh dari ketentuan Allah SWT maka selamanya tidak akan ada upaya mengevaluasi untuk meningkatkan kualitas diri. Sabda Nabi Saw:

اَلْحَيَآءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ

Rasa malu yang tercipta dalam diri adalah bagian dari keimanan.

Alangkah celakanya (seperti yang kita saksikan selama ini) orang yang jelas terbukti bersalah dan mendapatkan punishment (hukuman) karenan berbagai kasus seperti korupsi atau lainnya, tapi tidak mempunyai rasa malu. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak mampu mewujudkan hak-hak Allah atas dirinya.

Lq, 21 Mar -12

Download Audio: http://www.4shared.com/file/NPd5cMLn/file.html



[1] Firman Allah SWT:

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ﴿التوبة: ٥١﴾

“Kepada Allah lah orang-orang yang beriman harus bertawakal".

[2] Firman Allah SWT:

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ ﴿غافر: ٤٤﴾

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Melihat akan hamba-hamba-Nya”